Best Island
Beautiful Island
Beautiful Beach

Monday, March 16, 2009

untukmu, isteriku...(2)


kulihat matamu
dalam lembutnya cahaya sang fajar
bukan karena matamu elok


kulihat senyummu
dalam kelopak

bunga yang merekah

bukan karena senyummu indah


kuhirup aromamu

dalam taman istana kembang

bukan karena wangimu harum


kudengar tawamu

dalam gemericik air seribu dewa

bukan karena suaramu merdu


kurasakan sentuhanmu

dalam kibasan selendang sutera

tujuh bidadari
dan itupun bukan karena kulitmu halus


semua itu karena...

AKU CINTA KAMU

Saturday, March 14, 2009

save the world....(tapi kalo ada urusan lainya ya maaf !)


kalian mungkin sudah dengar, mungkin juga belum. tanggal 28 maret 2009, ....WWF (World Wildlife Fund) mengkampanyekan aksi mati lampu selama 1 jam, dari jam 20.30 hingga 21.30.

"Sasaran kami mencapai satu milyar orang, lebih dari 1000 kota, semua bersatu untuk bersama-sama dalam upaya global untuk memperlihatkan bahwa kita masih bisa melakukan sesuatu untuk mencegah pemanasan global," demikian pesan yang ditulis dalam situs resmi Earth Hour yang dimotori WWF (Eorld Wildlife Fund).

luar biasa memang kalo sampai hal ini bisa terwujud. bayangkan hanya dengan mematikan alat elektronik selama 1jam saja kita bisa menghemat 300 MW. kalo dirupiahkan berarti bisa sampai Rp 200 juta penghematan kita. dan harus diingat kalo perhitungan ini hanya untuk kota jakarta. SATU KOTA.
Bayangkan kalo 1000 kota......

hanya pertanyaannya adalah : Apa iya kita sanggup? 1 jam sama sekali nggak lama...tapi maukah kita?
HIpotesis saya : banyak orang akan "lupa" untuk mematikan alat2 listrik pada waktu yang sudah ditentukan...mungkin karena ada sinetron yang "sayang" untuk dilewatkan...atau juga karena kita sibuk chating....
mudah2an saja aku salah.......

belum sempet dikasih judul...(satu)


Sebenarnya cerita ini ingin aku buat novel, tapi akhir-akhir ini kesibukan senantiasa menyertai diriku kemanapun aku pergi....(sok sibuk, hehehehe....). makanya aku mandeg nulis dan benar kata temen2 penulis. Kelamaan gak nulis membuat mood kita hilang, saat aku pingin mulai nulis lagi otakku terasa beku...gak ada yang keluar...hanya sampah!
Sooo.....untuk siapapun dengan pekerjaan apapun :
BERHENTILAH BERISTIRAHAT SEBELUM RASA LELAHMU HILANG...!!


Bagian 1

.......... sayangnya pengorbanan
terkadang merupakan suatu keharusan

Aku amati titik air di dinding gelas. Mengalir turun perlahan menyatu dengan titik embun yang lain, bersama-sama membentuk satu kesatuan yang berjuang mempertahankan diri untuk tetap menempel pada dinding gelas. Sekuat apapun mereka mencengkeram gelas dan serekat apapun mereka melekatkan diri, tetap saja gravitasi menunjukkan dayanya dan menarik mereka ke bawah dengan kecepatan tak menentu –menunjukkan dua tenaga yang saling tarik-menarik– berlomba-lomba mengalir saling susul menyusul, bertabrakan satu sama lain. Seperti sekelompok pedagang kaki lima yang lari berserabutan menghindari petugas pamong praja yang juga tak kalah serabutannya. Berteriak-teriak dengan penuh wibawa. Perintah sana, perintah sini. Galak memang. Pentungan-pentungan dipamerkan –entah untuk menakuti atau memang dipersiapkan untuk memukul pedagang terdekat– membuat para pedagang yang kebanyakan adalah ibu-ibu setengah baya lari tunggang-langgang dengan daster ditarik setinggi paha, sekilas terlihat celana dalam mereka yang kumal dan tipis termakan waktu tatkala kain daster mereka ikut melonjak-lonjak seiring dengan makin cepatnya kaki-kaki kotor mereka berlari mencari keselamatan –yang susah mereka kejar karena keselamatan juga ikut lari tunggang langgang menghindari para petugas.

Akhir-akhir ini memang banyak sekali berita di TV yang menampilkan aksi anarki dan kerakusan dari para putra Adam. Tawuran antar mahasiswa, penggusuran pedagang kaki lima, sengketa tanah, konflik antar agama –tiada hari tanpa kekerasan. Hampir semua korbannya adalah masyarakat kecil, diseret sana diseret sini. Dilarang melakukan sesuatu dengan alasan yang masuk akal tanpa diberikan solusi.

“Jangan jualan di pinggir jalan. Mengganggu!” Masuk akal.
“Tapi ini penghasilan kami satu-satunya, Pak. Kalau tidak boleh berdagang bagaimana kami bisa makan? Bagaimana dengan uang kontrakan rumah? SPP anak?”
“Kami tidak pernah melarang anda untuk berdagang. Rakyat kecil adalah prioritas utama kami.” Menjanjikan, “Tapi jangan disini.” Masuk akal.
“Terus dimana?”
“Ya pokoknya jangan disini.” Solusi?

Tak sadar aku angkat gelas, bukan untuk kuminum tetapi untuk mengelap genangan kecil akibat lelehan embun dari dinding gelas di atas meja dan mengeringkannya dengan ujung lengan jaketku. Aku ambil lembaran koran dari bawah meja, kulihat tanggal yang tertera di sana. 14 maret. Hari ini. Aku julurkan tanganku ke tumpukan koran dan majalah di bawah meja tamu keramik –harganya pasti mahal. Tumpukan paling bawah menunjukkan tanggal minggu kemarin. Aku letakkan majalah remaja –yang memampangkan wajah aktor sinetron yang lagi beken– di atas meja dan kuletakkan gelasku di atasnya. Aku tersenyum puas.
Tidak biasanya aku melakukan hal-hal kecil seperti ini, hal yang kurang penting. Sama sekali bukan perilaku yang pantas dilakukan oleh orang sepertiku. Satu nama langsung terlintas di kepalaku. Bani! Orang yang jauh lebih pantas melakukan ketidakpentingan seperti yang kulakukan tadi.

Bani adalah orang yang sangat-sangat menyenangkan, dalam tanda kutip. Dia gemar melakukan apa yang aku lakukan tadi, hal yang gak penting –bagiku. Karena kebiasaannya yang gak penting itu pulalah makanya dia selalu menjadi the second person, pendamping, tokoh yang gak penting. Sesuai dengan hobinya yang juga tidak kalah gak pentingnya.
Ibarat cerita komik Batman, dia adalah Robin. Bukan tokoh utama yang selalu ingin tampil. Tetapi walaupun begitu tetap saja dia merupakan pelengkap yang selalu dinantikan dan harus ada. Aksi-aksi konyol Bani selalu ditunggu. Dia suka bikin sensasi, di setiap kesempatan dia selalu membuat ulah, konyol, nekad, memalukan dan tak bertanggung jawab, seperti Patrick-nya SpongeBob. Membuat orang-orang di sekitarnya merasa terganggu sekaligus terhibur. Karena kenekadannya mencari perhatian itu juga yang akhirnya mengakhiri hidupnya.
Tragis!
Saking gigih usahanya untuk menawan cinta seorang gadis yang bertubuh gempal, rambut awut-awutan, jerawat yang disebar begitu saja di atas wajahnya oleh malaikat penyebar jerawat –dia pasti sedang stress sehingga melampiaskan kekesalannya di atas wajah seorang gadis malang yang kebetulan dijadikan gadis pilihan oleh Bani–, kacamata yang hanya Betty La fea saja yang bisa nyaingin, dia rela berbuat satu hal bodoh yang merenggut nyawa.
Dari ciri yang saya jelaskan tadi, kalian pasti akan mendapatkan kesan kalau gadis itu jelek. Memang!
Terus, kenapa Bani sampai rela berkorban nyawa demi dia? Itulah cinta. Atau lebih tepatnya itulah Bani, manusia aneh yang tidak pernah masuk nalar.

Pernah suatu ketika, beberapa orang terbodoh dari kelas 2B –kelasku, dan sayangnya aku juga berada di antara mereka– berdialog mengenai science atau mungkin filsafat? ….pokoknya berbincang mengenai sesuatu yang sama sekali bukan bidang kami.
Anyway, argumen orang terpintar dari orang-orang terbodoh sekelas yang sedang berdiskusi itu terpatahkan oleh satu nama. Bani!
Waktu itu dia sedang menggurui kami dengan teori yang dipetiknya dari sebuah novel, bahwa segala hal yang ada di dunia ini pasti mempunyai dua sifat, yaitu baik dan buruk, positif dan negatif, hitam putih, kanan kiri, yin yang, siang malam, tahu tempe, bla bla. Dan dia juga bilang kalo semua hal di dunia pasti bisa dijelaskan dengan logika. Secara ilmiah.
Hebat memang kata-katanya!
Waktu bilang gitu itu, dia sambil mengipas leher penuh keringatnya dengan sehelai lembar kertas ujian IPA, jelas tertera di situ nilainya D. dilingkari guratan spidol merah marun.

“Masa?”
“Jelas dong!”
Di kejauhan terlihat Benjo, anak kelas 3 dikejar-kejar Guru BP. Pasti ketahuan ngerokok lagi.
“SEMUAnya pasti bisa dijelaskan dengan LOGIKA. Kalo gak percaya,coba sebutin satu hal. Sulap? Hantu? Gerhana?” lanjutnya setelah adegan kejar-kejaran antara 2 insan berbeda generasi itu berakhir dengan meloncatnya Benjo ke balik tembok pembatas sekolah membuat sang Guru BP berjalan terpincang sambil sedikit meringis karena –entah bagaimana– organ kesayangannya tersangkut pagar berduri di atas tembok ketika hendak menyaingi kelincahan Benjo.
“Coba jelaskan tentang Bani,” celetuk orang terbodoh di antara kami.
“…………………………” jawab orang terpintar di antara kami.
Itulah Bani, tidak terdefinisikan oleh berjuta ilmu. Kalau di area 51 terkenal dengan UFO-nya, bagi kami dia adalah UWO ~Unidentified Walking Object~

By the way.
Kembali ke gugurnya sang Bani. Sebenarnya sih sepele. Kejadiannya di kolam renang. Dengan PeDe-nya untuk merebut hati sang kekasih, Bani memberanikan diri melompat dari papan lompat yang paling tinggi. Papan khusus untuk atlet! Sebenarnya sih waktu itu aku ingin melarang dia, tapi mana mungkin aku melewatkan kesempatan melihat hiburan yang belum tentu konglomerat sekelas Donald Trump bisa menyaksikannya? Iya gak? Alhasil, aku memutuskan untuk berdiam diri, membiarkan egoku yang memenangkan pertarungan antara yang baik dan yang jahat, memang tak selamanya kebaikan mengalahkan kejahatan. Tuhan kan adil jadi terkadang kejahatan juga diberi kesempatan untuk mengecap manisnya anggur kemenangan...

Dengan hati berdebar kami melihat tubuh tambun Bani menaiki tangga demi tangga sampai akhirnya dia sampai di puncak, dari bawah sih kelihatannya dia baik-baik saja. Tersenyum dengan gagah sambil melambaikan tangan layaknya seorang penyanyi DangDut menyapa penonton dari atas panggung.
Perlahan dia berjalan ke tepi papan. Sampai sekarang aku belum yakin tapi aku melihat sesuatu yang menetes dari celana pendek gombrongnya. Keringat? Ataukah rasa takut membuat klep-nya bocor sehingga natural liquid-nya dapat dengan bebas merembes keluar? Only God and Bani knows.

Byuuurrrrrrr......!!!!!!! Aku gak tahu kapan dan kenapa dia nekad menjatuhkan diri dengan pilihan gaya yang benar-benar pantas untuk ditertawakan. Tapi jelas dia loncat! Tawa dan tepuk tangan membahana, Rhoma Irama aja pasti ngiri mendengar respon semeriah itu. Begitu antusias, bersemangat dan mengebu-gebu. Sampai-sampai kami gak sadar kalo Bani sudah berada di dalam air terlalu lama. Sumpah kami gak ngeh kalo waktu itu tawa, tepuk tangan, teriakan, semuanya itu ternyata merupakan pengiring Bani untuk berpulang.
Siapa yang menduga kalo orang yang berani melompat dari ketinggian seperti itu ternyata tidak bisa berenang? Tapi, itulah Bani. Sang UWO.

Aku mengalihkan pandanganku dari gelas yang membawa ingatanku ke Bani. Teras itu kecil tapi nyaman sekali, kolam kecil di samping teras diisi puluhan ikan mas koki. Berjejalan di satu kolam yang menurutku terlalu sempit bagi puluhan makhluk Tuhan itu. Mereka terlihat berebutan memonyongkan moncongnya ke atas permukaan air untuk menghirup sedikit udara sebelum digantikan oleh ikan yang lain. Apa mereka lupa kalau mereka bernafas melalui insang? Dasar ikan.
Di tepi kolam dihiasi beberapa pohon bonsai beraneka bentuk dan tidak satupun yang berbentuk selayaknya pohon.
Aku pegang salah satu pohon terdekat. Memang asli bukan plastik.

Tapi ngomong-ngomong. Lama amat sih Rara? Apa dia beneran sakit ya?
“Rio...” Seorang wanita setengah baya yang masih terlihat cantik datang menghampiriku. Sambil duduk di depanku terhalang meja keramik yang menjadi awal dari lamunanku yang tidak menentu akibat pelampiasan rasa gelisahku tadi. Wanita inilah yang telah dipinjam rahimnya oleh Tuhan selama 9 bulan untuk menyimpan calon manusia cantik yang membuatku jatuh cinta.
Dia menjelaskan kalau sekarang ini Rara tidak mau menemui aku. Bahkan membuka pintu kamar saja tidak mau. Sudah dua hari ini Rara seperti itu, sampai-sampai beliau dan Papanya Rara menjadi bingung setengah mati. Dia minta maaf padaku dan berkata supaya aku kembali saja besok kalau Rara sudah merasa baikan. Perlahan aku bangkit dari kursi yang sudah kududuki selama 30 menit lebih itu sampai-sampai pantatku sudah begitu teradaptasi dan enggan untuk beranjak dari bantalan kursi yang begitu empuk. Tetapi aku tetap berdiri dan tanpa bicara apapun aku mulai langkahkan kakiku menuju gerbang keluar.
Sesampainya di depan kurasakan adrenalinku terpompa sedikit demi sedikit, darah memenuhi kepalaku, ketegangan menguasai diriku, otakku nanar sampai akhirnya –sepersekian detik kemudian– dengan spontan aku membalikkan tubuhku dan dengan langkah cepat aku kembali ke teras dimana Mamanya Rara masih berdiri dan memandangku heran.
“Tante! Bilang sama Rara kalau aku tidak mau pergi dari rumah ini sebelum ketemu dia...”

tu bi kuntinyuuu......

Wednesday, March 11, 2009

untukmu, isteriku...



kau suka yang kubenci
ku punya yang tak kau miliki
kau cibir yang ku sapa
ku senyum dan kau menangis

begitu berbedakah kita ?

pernah aku ragu dan bertanya...
tentang benang yang sedang kita rajut
akankah benang menjadi sandang ?
ataukah kusut sebelum terbentuk ?

mampukah kita bertahan...
dari gelombang pasang perbedaan?

haru, bahagia, bangga
membuat mataku berkaca
ketika kau hapus segala ragu dan ketakutan
dalam hati
dengan senyum dan kata

YA! kita BISA!!
karena masih ada satu persamaan
di antara kita
satu yang cukup untuk meng"INDAH"kan
segala perbedaan

satu yang membuat segalanya sempurna
.....ialah CINTA

Thursday, February 19, 2009

You Need Full Map of Bali Island

BALI MAP

Map of Bali Showing the Major Cities of Bali and Places of Interest




(Click the map to see in large Image)

( . READ INFORMATION BEFORE TRAVELLING TO BALI ISLAND )

TRAVELLING TO BALI



BALI FLIGHT INFORMATION

Don't look for "Bali" in airline time tables. It's listed as "Denpasar" (DPS) which is the name of the island's capital. However, from Bali's international Ngurah Rai Airport it takes you just 15 to 30 minutes by car to Kuta, Legian, Sanur and Nusa Dua, and in about 50 to 60 minutes you can be in Ubud.

Today there is an increasing number of direct flight connections between Bali and Adelaide, Amsterdam, Auckland, Bangkok, Brunei, Brisbane, Cairns, Darwin, Frankfurt, Fukuoka, Guam, Honolulu, Kaohsiung, Kuala Lumpur, London, Los Angeles, Melbourne, Munich, Nagoya, Osaka, Paris, Perth, Rome, Seoul, Singapore, Sydney, Taipei, Tokyo, Vienna, and Zurich.

To check the Flight Schedules of the World's Major Airlines (not only flights to Bali but wherever you want to go), please click here. You might even wish to bookmark this page for all your air travel and flight information needs.

PRIVATE FLIGHTS TO BALI

Private Aircraft Charters, i.e. all non-scheduled commercial air transportation, is certainly not cheap but can be under certain circumstances the most economical means of travel. Look at the information for flights to Bali, check the airfares for different aircraft, and make your reservations on-line.

BALI TRAVEL BOOKS AND GUIDES - RECOMMENDED READINGS

(In association with Amazon.com Books)
Click the book title to order.

Bali Handbook, by Bill Dalton. Very detailed and well researched travel information for everybody seriously interested in Bali, its people, and all things Balinese. However, not much help for those looking for fine dining or luxury accommodation. Second edition revised in 1997.

Knopf Guide Bali. Beautiful layout of photography and artworks complement short essays on everything from detailed explanations of complex Hindu ceremonies to food preparation. The information here is amazingly accurate, and well presented with cross references to basic travel information.

Bali, Island of the Gods, Periplus Editions. In our opinion the best all-round Bali travel book with up-to-date information, detailed maps, and beautiful photographs. New edition expected in August 1999.

Insight Guide Bali, 16th. edition (March 1999) of this popular coffee table book with many beautiful photographs.

Lonely Planet Guide Bali & Lombok, by Paul Greenway, James Lyon, and Tony Wheeler. 7th. edition (February 1999) of this popular guide for the budget traveller.

East of Bali: From Lombok to Timor, by Kal Muller (photographs) and David Pickell, Passport Books. This travel book covers most islands between Bali and Australia.

Fodor's Indonesia (1999), by Laura M. Kidder. Travel book covering the whole Indonesian archipelago Fodor style.

Island of Bali, by Miguel Covarrubias. An introduction to the traditional Balinese culture written in the 1930's by this Mexican painter. A Classic and a Must for serious readers.

Bali: Sekala and Niskala I, by Fred B. Eiseman. Essays on religion, ritual and art. A great guide to the elaborate rituals of the Balinese, written by an American scholar who clearly loves this island.

Bali: Sekala and Niskala II, by Fred B. Eiseman. Essays on society, tradition, and craft. Detailed descriptions of every aspect of daily life in Bali, from morning offerings to mask making.

BALI: a Paradise Created, by Adrian Vickers. Over three centuries the West has created the exotic image of a tropical paradise which even has been taken over by the Balinese themselves. This book provides insight in the history full of violence and magic, art and ritual, warring kingdoms, slavery, mass suicides, and colonization.

BALI - the Ultimate Island, by Leonard Lueras and Ian Lloyd. The "ultimate coffee table book" on the "Ultimate Island".

Bali Style, by Barbara Walker and Rio Helmi. Photographs and descriptions of some of the most beautiful private residences in Bali.

The Food of Bali, by Heinz von Holzen. Introduction to Balinese food - followed by photographs and recipes of many local delicacies.

Diving and Snorkeling Guide to Bali and the Komodo Region, by Tim Rock. The name says it all.

Diving Indonesia: a Guide to the World's Greatest Diving, by (photographer and Indonesia expert) Kal Muller. Published in June 1999 with great photographs.

Fielding's Surfing Indonesia, by Leonard Lueras, Lorca Lueras, and Kathy Knoles (editor). In-depth travel guide to boarding on the world's largest archipelago.

Indo Surf & Lingo, by Peter Neely, 20th. edition (September 1998). Describes all of Indonesia's sensational surf spots in detail including Bali's 27 incredible breaks. With photos, maps and insider info.


( RECOMMENDED BALI ACCOMMODATION LOCATIONS )

RECOMMENDED BALI ACCOMMODATION LOCATIONS :

Nusa Dua & Tanjung Benoa & the Bukit (Southern peninsula)
Bali's southern peninsula is where you find today most of the island's international 4- and 5-star Bali Hotels and Resorts - set in Nusa Dua's manicured and not very Balinese garden environment. Nice beach with shallow water, no high waves. All kinds of water sports, 18-hole golf course. Nusa Dua Galleria center with a variety of rather expensive restaurants, shops, and department stores. Some more reasonably priced restaurants are located in adjacent Tanjung Benoa and Bualu village. No night life to speak of. About 12 km/7.5 miles from the airport.
An increasing number of private villas is being built on the Bukit, the hill South of the airport. Many of these offer spectacular views of the sea, Kuta, Denpasar, Sanur and Bali's mountains. The climate is much cooler and much more dry – even if it rains in most parts of Bali you can expect sunny days here.
Recommended Accommodation: Aston Bali Resort 5*, Ayodya Resort 5*, Grand Mirage Resort 5*, Inna Putri Bali 5*, Nikko Bali Hotel 5*, The Bale 4*, St. Regis Bali Resort 5*, and an increasing number of beautiful, fully staffed Private Villas.

Jimbaran Beach (West coast, South of the airport)
Probably Bali's best beach with decent hotels and accommodation: nearly white sand, waves not too high for swimming, wind surfing, and sailing (no motorized water sports activities); not too many tourists, and no beach vendors (yet). A few up-market hotels and resorts, and a fast increasing number of unpretentious but good seafood restaurants right on the water front. Highly recommended for watching Bali's famous sunsets. Located just a few miles south of the airport.
Recommended Accommodation: Bali Inter-Continental Resort 5*, Four Seasons Resort 5*, Ritz Carlton 5*, Bvlgari Bali 5*,

Tuban, Kuta (West coast, North of the airport)
An increasingly busy area with many hotels and resorts of all categories right on or near the beach (powerful waves, strong currents). Many restaurants and shops along the main road. Located between Kuta and Bali's international airport.
Recommended Accommodation: Discovery Kartika Plaza 5*, Ramada Bintang Bali 5*.

Kuta Beach & Legian (West coast, South Bali)
Crowded beach (many vendors, masseuses, beach boys, etc, high waves, strong currents) lined by numerous hotels and resorts, mostly in the 2- to 4-star categories. In early 2000 the beach road from the Hard Rock Resort to the Bali Intan Hotel has been extended to the "DOUBLE SIX" disco, and many hotels such as the Legian Beach, Bali Mandira, Bali Padma, Jayakarta Hotel and others have lost their direct beach access and a large part of their garden.
Kuta and Legian (grown into one township during the past decade and spreading further north every month) are the centers of Bali's night life with a great number of restaurants, pubs, open bars, discos, and all kinds of super markets, department stores, and shops selling casual wear and beach fashions, antiques, handicrafts and souvenirs. Daily traffic jams and many, sometimes quite insistent hawkers have made this very untypical and rather ugly part of Bali a nightmare for many visitors.
Recommended if you are looking for action, excitement, or just for a night out, but certainly not for a family vacation or romantic honeymoon.
Recommended Accommodation: Bali Padma Hotel 5*, Hard Rock 5*, Inna Kuta Beach 4*, Mercure Bali 4*.

Seminyak to Batubelig and Tanah Lot (West coast, South Bali)
Until recently this used to be a rather rural, mostly residential area, stretching a few miles north from Legian. Good, off-white, sandy beach with powerful waves and some strong currents, and getting less crowded the further you move to the North. Fast increasing number of hotels and villas, good but reasonably priced restaurants and Bali's most interesting pubs and discos as well as shops selling casual wear, furniture, antiques, decorative items and handicrafts.
Recommended for visitors who wish to be somewhat away from the tourist crowds but appreciate easy access to the restaurants and shops of Seminyak, Legian, and Kuta. Access to other parts of the island is equally good as you don't have to pass through crowded Kuta. Between Seminyak and Batubelig, and in the beautiful, still rural area stretching further North to Canggu and up to Tanah Lot you'll also find some of Bali's most attractive vacation villas.
Recommended Accommodation: Resor Seminyak 5*, Sofitel Seminyak 5*, The Legian 5*, The Samaya Bali, The Oberoi 5*, Le Meridien 5*, and a good choice of fully staffed Private Vacation Villas.

Sanur Beach (East coast, South Bali)
This is where you'd find 25 years ago all of Bali's international standard hotels although the beach was never outstanding. Today the beach has further deteriorated, and Sanur has become rather quiet compared to Kuta and Nusa Dua but is still popular with old-time visitors and some foreign residents.
Recommended Accommodation: Bali Hyatt 5*, Inna Grand Bali Beach 5*, Inna Shindu Beach 3*, Sanur Paradise Plaza 4*, and some Private Vacation Villas.

Ubud and Surroundings, Central Bali
The town of Ubud is to Bali what Jogyakarta is to Java - culturally speaking. Ubud is where most accomplished painters, dancers, musicians, carvers and weavers live and work, and there are a number of very good museums and art galleries. Because of its location at the base of the mountains (about 19 miles or 30 kilometers north of Denpasar) temperatures are slightly lower than in the lowlands, and year-round rain showers help to grow lush tropical vegetation.
The town itself has developed rapidly during the past decade, and today the main roads are lined with art shops, handicraft and souvenir shops, as well as many restaurants and cafes. Until late afternoon tourist groups and other day-visitors are roaming shops and eateries. After sunset, Ubud becomes more quiet.
Accommodation ranges from very cheap, very basic "losmens", quite expensive but equally basic "losmens", to some of Bali's best-known and most expensive boutique hotels and beautiful private villas. Most of these are located in Sayan a few miles away overlooking the picturesque Ayung river valley.
Recommended Accommodation: Alila Ubud 4*, Four Seasons Sayan 5*, Kori Ubud Resort & Spa 1*, The Viceroy Bali, and a few very attractive Private Vacation Villas.

Candidasa & Lovina, East & North Bali
These two tourist centers in the East and North of Bali have become popular meeting places for all those visitors wanting to get away from the tourists. Both offer a number of often quite simple but adequate hotels and restaurants. Beaches around Candi Dasa, however, have kind of disappeared during the last decade after most coral reefs in the area were destroyed, and many visitors do not like the black sand covering most beaches in the North of Bali.
Recommended Accommodation: Kubu Bali, Mimpi Resort Tulamben 5*, Puri Bagus Candidasa 5*, Mimpi Resort Menjangan 5*, Sol Inn Lovina 5*.